Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2012

ANTARA KORUPSI, PORNOGRAFI DAN ROK MINI

Realitas sosial yang sangat mengerikan yang sedang dihadapi bangsa ini adalah korupsi yang semakin menjadi-jadi. Korupsi sudah begitu kuat merasuki kehidupan sebagian masyarakat kita.

 Setiap hari kita disuguhi rupa-rupa kasus korupsi. Rasanya tiada hari tanpa berita korupsi. “Kolonialisme korupsi” semakin dalam menancapkan kukunya di semua lini birokrasi di negeri ini. Oleh karenanya, jangan heran kalau negara kita termasuk negara yang paling korup di dunia. Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index/CPI) yang dirilis Transparency International (TI) pada 2011 yang lalu menegaskan hal itu. Dalam survei yang dilakukan terhadap 183 negara di dunia, Indonesia menempati skor CPI sebesar 3,0.

Angka indeks menunjukkan seberapa besar potensi korupsi di suatu negara. Semakin kecil angka indeksnya menunjukkan potensi korupsi negara tersebut semakin besar. Berdasarkan hasil survei Freedom Barometer Asia 2011, Indonesia menduduki ranking keenam negara terkorup dengan total nilai merah 58,52. Di level Asia Pasifik, perusahaan konsultan Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hong Kong menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling hebat korupsinya.

 Begitu maraknya korupsi di republik ini, menyisakan sejumlah tanya. Sudah matikah rasa keadilan sosial, rasa solidaritas terhadap sesama warga dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama? Sudah matikah rasa tanggung jawab politik, rasa keadilan sosial demi kesejahteraan umum? Kalau belum, mengapa politik lebih kuat berorientasi pada kekuasaan? Mengapa politik dijadikan kendaraan menumpuk kekayaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok melalui perbuatan-perbuatan koruptif yang menyengsarakan? Bukankah dasar moralitas kehidupan politik adalah demi kesejahteraan bersama, bukannya untuk membuncitkan perut oknum-oknum tertentu? Di tengah mengguritanya korupsi yang merupakan kejahatan kemanusiaan paling keji itu, pemerintah mestinya memfokuskan perhatian dan menghimpun segala kekuatannya untuk memerangi perbuatan laknat yang menyengsarakan itu. Tapi aneh bin ajaib, pemerintah malah sibuk mengurusi gejolak nafsu syahwat warga negerinya dengan membentuk Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi. 

Tak tanggung-tanggung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 25 Tahun 2012 yang diteken pada 2 Maret 2012 lalu, menugasi enam menteri untuk menjalankan gugus tugas tersebut. Satuan tugas tersebut dipimpin Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, dengan Menteri Agama Suryadharma Ali sebagai ketua harian. Tak mau kalah dengan pemerintah dalam mengurus nafsu syahwat warga negerinya, pimpinan DPR pun berencana merevisi tata tertib anggota parlemen dan pengunjung kompleks DPR dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Senayan. Salah satu klausul yang diusulkan adalah pengaturan tata busana bagi anggota DPR. Rok mini yang dinilai tak pantas dikenakan perempuan di gedung wakil rakyat akan dilarang. “Kami belajar dari maraknya kasus pemerkosaan akibat perempuan yang berpakaian tak pantas,” kata Ketua DPR Marzuki Alie.

 Pertanyaan reflektif-substansialnya adalah sungguhkah maraknya kasus pemerkosaan di tanah air belakangan ini dipicu oleh pakaian perempuan yang kurang pantas (baca: memakai rok mini)? Sudah sedemikian parahkah persoalan nafsu syahwat di negeri ini sehingga pemerintah dan DPR begitu bernafsu mengurusnya? Bila alasannya karena maraknya peredaran video mesum (porno), bukankah itu menjadi tugas polisi sehingga diatasi dengan mengaktifkan kerja polisi? Bila pemerkosaan wanita di dalam angkot yang menjadi isu, bukankah itu soal keamanan transportasi? Di tengah mengguritanya korupsi di negeri ini, mengapa pemerintah dan DPR malah begitu bergairah mengatur gejolak libido warga negeri? Ataukah korupsi sudah dianggap biasa di negeri ini sehingga tak perlu dibasmi? Ataukah korupsi dianggap wajar, jika tak korupsi malah alergi? Efektifkah kebijakan Presiden SBY membentuk Satgas Antipornografi untuk mengurangi kejahatan seksual dan pornografi? Pengalaman membuktikan pornografi tak akan pernah mati dalam perjalanan sejarah umat manusia. Ini disebabkan pornografi terkait erat (inheren) dengan naluri dasar manusia.

 Perlu waktu panjang dan melibatkan banyak kalangan macam lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, lembaga kebudayaan, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, kaum cerdik cendekia untuk menekan kejahatan seksual dan pornografi. Melihat fakta empiris semakin banyak politikus, pejabat, dan birokrat di negeri ini melakukan tindak korupsi dan masuk bui akibat syahwat korupsi yang tak terkendali, memompa semangat, menghunus pedang untuk menebas dan membasmi korupsi adalah pilihan bijak dan urgen ketimbang mengurus soal libido dan rok mini anak negeri.
BACA SELENGKAPNYA - ANTARA KORUPSI, PORNOGRAFI DAN ROK MINI

Selasa, 17 April 2012

Anak Cerdas China-Brasil Bersikeras Dia Tidak Jenius

Los Angeles (AFP/ANTARA) - Moshe Kai Cavalin menegaskan bahwa dia bukan seorang "jenius" - meskipun dia meraih gelar sarjana ketika berusia 11 tahun, dan akan segera lulus dari University of California, Los Angeles (UCLA), pada usia 14 tahun.

Remaja muda, yang memiliki ibu keturunan China dan ayah dari Brasil tersebut, mulai belajar pada usia dua tahun dan sama sekali tidak membuang-buang waktu - jadi menyebutnya jenius adalah tidak adil karena dia memang berusaha dari awal.

"'Jenius' hanyalah sebuah kata, seperti IQ, itu istilah yang dibuat oleh orang yang hanya mengklasifikasikan satu hal, dan mereka mengabaikan segala sesuatu yang lain yang membentuk seorang individu," katanya kepada AFP di kantin UCLA.

"Saya tidak suka disebut jenius dan saya tidak ingin disebut seperti itu ... Yang saya lakukan adalah mencoba untuk mendapatkan kebijaksanaan melalui pengetahuan dan saya pikir melatih kebijaksanaan jauh lebih baik daripada menjadi jenius," tambahnya.

Itu sebabnya Moshe Kai menulis buku "We Can Do" - yang pertama kali dirilis dalam bahasa Mandarin di Singapura, Malaysia dan Taiwan, dan bukunya menjadi buku yang laris - dan sekarang diadaptasi ke dalam bahasa Inggris – “Untuk membantu orang tua mendorong anak-anak mereka untuk meraih cita-cita"

"Saya mencapai titik di mana banyak orang menganggap tidak mungkin pada usia saya (...). Saya mencapai setinggi Bulan, tapi siapa saja yang benar-benar mencoba, bisa mencapai di atas galaksi Bima Sakti," tulisnya dalam buku tersebut.

Lahir di Los Angeles, Moshe Kai sudah berlatih matematika sederhana pada usia empat tahun, ketika orangtuanya memasukkannya pada program belajar intensif termasuk matematika, musik, seni bela diri dan membaca.

Setelah ditolak oleh sejumlah sekolah yang khawatir ia akan mengalihkan perhatian siswa lain, ibunya Shu Chen Chien dan ayah Yusuf Cavalin memutuskan untuk memberikan dia program home-schooling.

Dengan pengurangan untuk melihat televisi dan bermain videogame,perkembangannya mulai pesat, dia mulai memenangkan kontes internasional seni bela diri, belajar untuk menyelam dan mendaftar di universitas pada usia delapan tahun.

"Saya hanya mengambil keuntungan dari apa yang saya miliki. Semua orang memiliki potensi untuk menjadi istimewa, namun anda harus mengambil keuntungan dari potensi itu," kata Moshe Kai, yang mengingat semua hadiah ulang tahunnya dan mengatakan film favoritnya adalah "Wall-E".

"Dan saya pikir semua orang dapat memiliki potensi untuk menjadi seperti saya. Namun mereka tidak mengambil kesempatan itu. Itu sebabnya orang menganggap saya spesial. Saya bekerja keras, saya merencanakan ke depan untuk mencapai tujuan saya untuk kehidupan yang lebih baik. "

Ibunya menampik kritik yang menyebut dirinya "Tiger Mom," yang memberikan tekanan besar pada anaknya tersebut untuk berhasil.(as/ik)
BACA SELENGKAPNYA - Anak Cerdas China-Brasil Bersikeras Dia Tidak Jenius

Shah Rukh Khan Ditangkap di Bandara New York

Aktor Bollywood Shah Rukh Khan ditahan di Bandara White Plains, New York selama dua jam pada Kamis (12/4), sesaat setelah dirinya tiba untuk mengunjungi Yale University, tempat di mana dia akan diberi penghargaan sebagai Chubb Fellow.

SRK ditahan oleh pihak imigrasi setempat untuk pemeriksaan keamanan sekunder oleh Bea Cukai AS dan agen Patroli Perbatasan. Dia diperbolehkan pergi setelah pihak yang mengundang dirinya turut campur tangan dan menyelesaikan kasus tersebut dengan pihak pemerintah Amerika Serikat di Washington, seperti yang dikutip dari Yahoo! Maktoob News.

Pada bulan Agustus 2009, SRK juga pernah ditahan di Bandara Newark dan kemudian dilepaskan setelah adanya intervensi dari Konsulat India di New York.

"Aku sangat direpotkan oleh pihak bandara Amerika karena nama belakangku Khan. Sungguh tidak beralasan. Aku merasa sangat marah dan merasa dipermalukan," ujar Shah Rukh Khan, yang kala itu akan menuju Chicago untuk menghadiri perayaan Hari Kemerdekaan India.

"Nama Khan memang nama Muslim dan saya rasa nama itu sudah umum ada di daftar mereka," lanjutnya.
BACA SELENGKAPNYA - Shah Rukh Khan Ditangkap di Bandara New York

Senin, 16 April 2012

Ratusan Miliar Rupiah untuk Tangkap Obama-Bush

Liputan6.com, London: Anggota parlemen Inggris dari Partai Buruh membuat gebrakan. Nazir Ahmed, demikian namanya, melontarkan pernyataan yang sangat kontroversial. Dalam Harian Pakistan Express Tribune, pertengahan April ini, orang Islam yang pertama kali menjadi anggota Dewan Inggris itu menawarkan hadiah sekitar 10 juta Pound Sterling atau sekitar Rp 150 miliar. Angka sebesar itu akan diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan mantan Presiden AS George W. Bush.

Pernyataan tersebut diungkapkan Nazir Ahmed di Haripur, Pakistan, pekan silam sebagai balasan atas penawaran pemerintah Amerika yang menawarkan memberikan hadiah sebesar US$ 10 juta atau sekitar Rp 91 miliar bagi yang berhasil menangkap Hafiz Muhammad Saeed, pimpinan Laskhar e Tayyiba. Warga Pakistan itu diklaim AS sebagai dalang serangan teroris 2008 di Mumbai, India.

Aksi Nazir Ahmed mendapat respons keras. Partai Buruh Inggris menonaktifkan keanggotaan dewan asal Pakistan tersebut, karena dinilai terlalu berani menantang AS. "Kita telah menonaktifkan sementara keanggotaan Ahmed hingga ia selesai diinterogasi. Jika pernyataannya itu benar dan serius, kami akan tindak tegas," kata juru bicara Partai Buruh, seperti dilansir AFP, Senin (16/4).

Selama menjadi anggota House of Lord Inggris, Nazir Ahmed memang sering menjadi sosok kontroversial. Dia menjadi penyelenggara peluncuran buku di House of Lord pada 2005 atas karya penulis kontroversial dari Swedia, Israel Shamir, yang dikenal anti-Israel dan Yahudi. Selain itu, Ahmed juga sangat berani menentang keputusan pemerintah Inggris yang memberikan gelar ningrat bagi Salman Rushdie pada 2007. Bagi Ahmed, Rushdie tak pantas diberi gelar tersebut karena telah menodai Islam, lewat buku The Satanic Verses
BACA SELENGKAPNYA - Ratusan Miliar Rupiah untuk Tangkap Obama-Bush

Beredar, Kunci Jawaban Lewat Telepon Seluler

DEPOK, KOMPAS.com — Ujian nasional kembali diwarnai kecurangan atau keisengan. Kunci jawaban beredar dari ponsel ke ponsel.



Peredaran bukan hanya diterima siswa peserta ujian, melainkan juga pekerja swasta yang tidak ikut ujian. Kunci jawaban itu dikirim lengkap untuk lima paket soal Bahasa Indonesia.

"Saya dapat pesan pendek tadi malam pukul 23.00. Saya cari tahu pengirimnya ternyata anak SMA di Depok. Saya bilang saya bukan peserta UN, sepuluh tahun lalu saya sudah lulus SMA," tutur Rizky Afriono (27), pekerja swasta di kawasan Mampang, Jakarta.

Karena alasan kasihan, Rizky tidak bersedia menyebut identitas pengirim kunci jawaban tersebut. Rizky yang tinggal di Depok itu tidak dapat memastikan apakah kunci jawaban tersebut benar atau tidak.

Hal yang sama diakui oleh Ari Supratman, peserta ujian nasional dari Sekolah Menengah Atas Terbuka Yayasan Bina Insan Mandiri yang mengikuti ujian di SMA 5 Depok.

Walaupun dia menerima pesan pendek kunci jawaban soal lewat telepon seluler (ponsel), dia tidak berani menggunakannya. Dia khawatir kunci itu tidak benar sehingga menyesatkannya.

Hari ini, sebanyak 14.234 siswa SMA/SMK/MA dari 158 sekolah di Kota Depok mengikuti ujian nasional. Dari seluruh peserta, sebanyak 4.621 siswa SMA, 8.885 siswa SMK, 717 peserta madrasah aliyah.
BACA SELENGKAPNYA - Beredar, Kunci Jawaban Lewat Telepon Seluler